Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2016

DIA IBUKU

Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.
Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.
Bagaimana caranya?
,
Ku beritahu kau, itulah alasan aku berada di genteng dengan wajah sembab. Aku memang habis menangis. Kesedihan yang wajar dirasakan oleh seorang anak saat Ibu kandungnya sendiri selalu membandingkan diriku dengan anak-anak perempuan seusiaku. Aku mengusap kembali air mataku yang ku paksakan berhenti tapi malah berakhir makin deras jatuhnya. Sepertinya pelupuk mataku pun tidak sanggup menahan sakit hatiku. Nyeri sekaligus sesak yang sulit aku ungkapkan di dadaku yang sulit untuk diungkapkan. Aku tetap menahan tangis agar tidak ada satu orang pun yang di bawah sana melihat ke atas dan menemukanku sedang menangis.
“Hei dara!”
Seseorang menepuk pundakku halus. Aku tidak perlu menoleh kepadanya, karena orang tersebut langsung mengambil tempat di sisi kananku tanpa meminta izin.
“Kau bertengkar lagi dengan ibu?” Ia bertanya padaku dengan lembut. Melihat caranya memperlakukanku, aku tahu ia mengerti perasaanku. Perasaannya cukup peka untuk seorang kakak laki-laki.
Aku malah menyembunyikan wajahku dalam lipatan kakiku. Tangisanku semakin kencang dan guncangan bahuku pun makin tidak terkendalikan.
“Ayolah, ceritakan padaku.”
“Aku benci ibu, Kak.” Isakku. Aku tahu kalimatku terlalu mengejutkan. Di saat seluruh anak mencintai ibunya, aku malah membenci ibuku.
Kakakku tidak membantah. Ia ingin aku meneruskan ceritaku maka itu yang aku lakukan.
“Ibu menyuruhku membuat sambal lado ikan untuk makan siang kita…” AKu berhenti sebentar untuk menarik ingusku yang lolos dari lubang hidungku yang mancung, “Aku lupa menambahkan bawang merah saat aku giling. Aku benar-benar lupa kak, tapi ibu menyalahkan aku seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar. Ia mulai membandingkan aku dengan Rina yang jago memasak, dan tidak segan-segan ibu menyebutku ceroboh dan bodoh.” Saat mengucapkan kata-kata terakhir, hatiku tertohok kembali. Aku benar-benar mengingat dengan jelas ucapan ibu yang tajam menyayat hatiku. Sangat luar biasa sakit. Dadaku sesak, menahan tangis yang akan keluar lagi.
“Lalu?”
“Aku berlari keluar dari dapur dan disini aku berada. Menjauhi rumah dan menjauhi ibu.”
Kakakku menarik nafas dalam-dalam. Ia meluruskan kakinya di atas genteng. Menatap lurus pada sekumpulan wanita disana.
“Aku paham rasa sakit hatimu. Tapi maukah kau juga berpikir dari posisi ibu?”
“Berpikir apa? Berpikir bagaimana setiap kata dapat melukai hati anakknya? Itu yang kau mau untuk aku pikirkan?”
“Pikirkan alasan ibu mengucapkan kalimat itu. Apakah kau pernah berpikir bahwa ibu kelelahan setelah menyiapkan keperluan kita. Belum lagi Ifa menangis terus dari tadi. Ibu hanya kebingungan.”
“Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan buat Ibu untuk berhak mengataiku Kak.”
“Aku hanya ingin memberi saran padamu. Aku tidak membenarkan sifat Ibu dan aku juga tidak ingin menyalahkan Ibu, tapi pikirkan ini: Sakit mana saat Ibu berusaha melahirkanmu dengan sakit hatimu saat ibu khilaf memarahimu?”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus menjawab apa, semua kata-kata pembelaan bagiku hilang semuanya. Sakit saat ibu melahirkanku mungkin memang tidak ada tandingannya. Aku pernah membantu Ibu Nani — bidan kampung — saat ia membantu persalinan Ibu Wijaya. Aku pikir beliau akan meninggal, melihat nafasnya yang putus-putus dan keringat yang mengalir deras. Bahkan aku terkesiap saat Ibu Wijaya sempat kehilangan kesadaran. Bodoh sekali aku melupakan moment beharga itu. Bodoh sekali…
“kau tidak perlu menjawabnnya. AKu hanya ingin kau merenunginya.”
Setelah kalimat terakhir kakakku itu, aku memang tidak banyak berkata apa-apa lagi. AKu hanya mengamati Ibuku yang masih saja berbelanja, padahal ibu-ibu yang lain sudah pergi. Ku lihat wajah Ibuku kecewa dan ia berbalik meninggalkan si mamang yang sudah mendorong gerobak sayurnya.
Saat ia berjalan kembali ke rumah, matanya melirik ke atas dan ia melihatku.
“Joe, apa yang kau lakukan pada adikmu hah?” Ibuku berteriak dari bawah agar suaranya sampai pada kami.
“Cuma cari angin Bu. Dara ingin berjemur biar kulitnya bertambah hitam.”
AKu memukul kakakku keras. Ia sangat suka menggodaku, tapi aku bersyukur ia tidak memberi tahu ibu kalau aku baru saja menangis.
“Sudahlah. Kalian turun ya. Ibu akan membuat sayur asam.”
“Sayur asam?” pekikku.
Ibuku tersenyum, “Iya, tapi ayamnya habis sayang. Jadi ibu hanya membeli tempe untuk lauknya.” Dan kini aku tahu kenapa wajah ibuku terlihat kecewa tadi. Ayam kesukaanku telah habis.
Sayur asam ibuku adalah makanan favorit ku. Biasanya Ibu selalu menggoreng ayam untuk lauknya, tapi tempe pun tidak apa, yang penting masakan ibu.
“Tidak apa-apa Bu. Sayur asam saja sudah cukup. AKu akan turun sekarang.”
Aku berlari turun dan langsung menuju pintu depan. Aku membawa kantung belanjaan ibu dan membawanya ke dapur.
kakakku yang rupanya mengikuti jejakku untuk turun dari genteng pun tiba di dapur. Ia memandangi kami dengan wajah yang sumringah.
“Ada yang perlu ku bantu?” Ia menawarkan bantuannya.
“Sudahlah kakak. kau di luar saja. Memasak adalah urusan wanita. Iya kan Bu?” AKu meminta pembelaan dari ibuku.
Ibu ku tidak menjawab. ia cukup tersenyum yang ku artikan sebagai jawaban ‘Ya’
“jangan sampai gosong ya.” Goda kakakku.
Ia pun berhasil menghindari pukulanku. Dia adalah kakakku, kakak yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Dan wanita yang berdiri disana adalah ibuku. Ya dia ibuku, apapun yang terjadi ia tetap ibuku.
‘Maafkan aku Bu.’ Ucapku dalam hati

cerpen terbaru


Cerpenmu Team


Berikut merupakan 10 Kumpulan Cerpen terbaru kiriman dari para Sahabat cerpenmu:

Jamrijan

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Tubuh malam yang gelap telah meniduri bumi Rasianja. Jarum jam yang tertatih-tatih menunjukkan waktu yang tepat untuk manusia normal terlelap di atas kasur kesayangan mereka masing-masing. Benar, manusia normal. Jika kita melirik ke salah satu rumah di dusun ini, yaitu rumah yang berteman dengan semak belukar, pintunya kaca, dinding-dindingnya » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)

Tahajud Nenek Aisha

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
“Labbaik Allahuma Labbaik. Labbaik Laa Syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.” Itulah ucapan talbiyah yang ingin nenek Sumtiantuti ucapkan di tanah suci Mekkah pada saat menjalankan rukun islam yang kelima. Nenek yang berumur setengah abad lebih 10 tahun ini telah berpuluh tahun » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga

Light Farewell

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu dan membukanya. “Asslamualaikum!” Tak ada yang menyahut. Ia bergegas berjalan menuju kamarnya. Baru saja ia membaringkan tubuhnya di kasur, suara » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih

Lima Pemuda Mengangkatnya (Part 2)

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Siapa saja yang tinggal di Kampong Pinang, di kaki bukit Salak, tahu dan mengerti akan lelaki perempuan serba modern itu menjengkelkan. Tidak secara langsung ia berperangai riya. Bagaimana tidak? Pergi menghadiri pengajian di surau yang jaraknya seratus meter saja dikendarainya sedan mercy dan memakai gaun serta hijab putih berkesan » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Lima Pemuda Mengangkatnya (Part 1)

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
“DOR!” Fatih tersentak. Kaget bukan buatan, baru saja akan ia tempelkan sebuah cerita karangannya di majalah dinding sekolah kala langit sore tiba, malah tertangkap basah. Jari telunjuk dan jempol tangan seseorang -seolah pistol- menancap di ubun-ubunnya. Rahasia yang disusun rapi-rapi olehnya terbongkar oleh seseorang. Siapa orang yang hebat itu, » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Satu Opini Untuk Tuhan

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Semilir angin menerpa wajahku membuat berantakan tiap helai rambutku, terus-menerus aku gerakkan pena kesayanganku mengisi tiap-tiap lembar kosong dengan imajinasiku. Aku Cindy anak dari seorang petani di desa seberang, aku kini tinggal bersama ayahku semenjak ibu meninggal dunia, hatiku merasa terpukul di kala aku tahu ibu meninggalkanku, pergi untuk » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih

Sedikit Masalah Dengan Karma

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Semua dimulai saat itu ketika sebuah balon udara yang besar jatuh tepat di depan sekolah kami. Semua isi sekolah kami, bahkan sekolah tetangga bergerombol di sekitarnya. Tapi aku, aku tidak peduli. Aku hanya melihat semua orang-orang itu di jendela. Semua murid di kelasku ke luar, tetapi apa gunanya bergerombol » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Remaja

Luka Masa Lalu

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
- POV 2 Sebuah seringai menghiasi wajahmu serupa serigala yang menemukan mangsa dan siap menerkamnya. Mungkin pagi ini keberuntungan menyelimutimu, suasana sepi, dan incaranmu kini ada di depan mata. Bukankah ini yang kau tunggu-tunggu? Tak sia-sia selama ini kau mencari info untuk merampungkan hasratmu. Mobil yang kau tumpangii bersama » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan

Masalah Sharmay

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 27 February 2016
Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. » Baca lanjutan ceritanya...
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Lucu (Humor)
 
 
 
kopas dari : cerpenmu.com
Merupakan sebuah website sederhana yang diperuntukan bagi para pembaca dan penulis cerpen (Cerita Pendek) Indonesia.

Di cerpenmu dot com kalian dapat membaca kumpulan cerpen bahasa indonesia secara gratis dari para sahabat cerpenmu, ataupun jika kamu seorang penulis atau memiliki hobby dalam menulis cerita, kamu bisa “mempublikasikan” hasil hasil karyamu di sini agar dapat dibaca oleh banyak orang dari seluruh Indonesia, GRATIS! dan tanpa akan dipungut biaya sepeser pun!, “Ekspresikan dirimu melalui hasil hasil karya cerpen mu di cerpenmu.com!”


Website ini diperkenalkan pertama kali di dunia maya pada 28 Mei 2012, sebagai sister site duniadownload.com, website komunitas pencinta ebook (buku digital) gratis Indonesia yang telah ada sejak tahun 2008.

Besar harapan kami agar kedepannya website ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar untuk masyarakat, khususnya bagi para pecinta cerpen dan penulis cerita di tanah air, dari yang sudah profesional hingga yang masih pemula sebagai media pembelajaran yang positif dalam mengasah kreativitas juga pengembangan minat dan bakat putra putri indonesia.
 

cerpen dia ibuku

DIA IBUKU

Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.
Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.
Bagaimana caranya?
,
Ku beritahu kau, itulah alasan aku berada di genteng dengan wajah sembab. Aku memang habis menangis. Kesedihan yang wajar dirasakan oleh seorang anak saat Ibu kandungnya sendiri selalu membandingkan diriku dengan anak-anak perempuan seusiaku. Aku mengusap kembali air mataku yang ku paksakan berhenti tapi malah berakhir makin deras jatuhnya. Sepertinya pelupuk mataku pun tidak sanggup menahan sakit hatiku. Nyeri sekaligus sesak yang sulit aku ungkapkan di dadaku yang sulit untuk diungkapkan. Aku tetap menahan tangis agar tidak ada satu orang pun yang di bawah sana melihat ke atas dan menemukanku sedang menangis.
“Hei dara!”
Seseorang menepuk pundakku halus. Aku tidak perlu menoleh kepadanya, karena orang tersebut langsung mengambil tempat di sisi kananku tanpa meminta izin.
“Kau bertengkar lagi dengan ibu?” Ia bertanya padaku dengan lembut. Melihat caranya memperlakukanku, aku tahu ia mengerti perasaanku. Perasaannya cukup peka untuk seorang kakak laki-laki.
Aku malah menyembunyikan wajahku dalam lipatan kakiku. Tangisanku semakin kencang dan guncangan bahuku pun makin tidak terkendalikan.
“Ayolah, ceritakan padaku.”
“Aku benci ibu, Kak.” Isakku. Aku tahu kalimatku terlalu mengejutkan. Di saat seluruh anak mencintai ibunya, aku malah membenci ibuku.
Kakakku tidak membantah. Ia ingin aku meneruskan ceritaku maka itu yang aku lakukan.
“Ibu menyuruhku membuat sambal lado ikan untuk makan siang kita…” AKu berhenti sebentar untuk menarik ingusku yang lolos dari lubang hidungku yang mancung, “Aku lupa menambahkan bawang merah saat aku giling. Aku benar-benar lupa kak, tapi ibu menyalahkan aku seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar. Ia mulai membandingkan aku dengan Rina yang jago memasak, dan tidak segan-segan ibu menyebutku ceroboh dan bodoh.” Saat mengucapkan kata-kata terakhir, hatiku tertohok kembali. Aku benar-benar mengingat dengan jelas ucapan ibu yang tajam menyayat hatiku. Sangat luar biasa sakit. Dadaku sesak, menahan tangis yang akan keluar lagi.
“Lalu?”
“Aku berlari keluar dari dapur dan disini aku berada. Menjauhi rumah dan menjauhi ibu.”
Kakakku menarik nafas dalam-dalam. Ia meluruskan kakinya di atas genteng. Menatap lurus pada sekumpulan wanita disana.
“Aku paham rasa sakit hatimu. Tapi maukah kau juga berpikir dari posisi ibu?”
“Berpikir apa? Berpikir bagaimana setiap kata dapat melukai hati anakknya? Itu yang kau mau untuk aku pikirkan?”
“Pikirkan alasan ibu mengucapkan kalimat itu. Apakah kau pernah berpikir bahwa ibu kelelahan setelah menyiapkan keperluan kita. Belum lagi Ifa menangis terus dari tadi. Ibu hanya kebingungan.”
“Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan buat Ibu untuk berhak mengataiku Kak.”
“Aku hanya ingin memberi saran padamu. Aku tidak membenarkan sifat Ibu dan aku juga tidak ingin menyalahkan Ibu, tapi pikirkan ini: Sakit mana saat Ibu berusaha melahirkanmu dengan sakit hatimu saat ibu khilaf memarahimu?”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus menjawab apa, semua kata-kata pembelaan bagiku hilang semuanya. Sakit saat ibu melahirkanku mungkin memang tidak ada tandingannya. Aku pernah membantu Ibu Nani — bidan kampung — saat ia membantu persalinan Ibu Wijaya. Aku pikir beliau akan meninggal, melihat nafasnya yang putus-putus dan keringat yang mengalir deras. Bahkan aku terkesiap saat Ibu Wijaya sempat kehilangan kesadaran. Bodoh sekali aku melupakan moment beharga itu. Bodoh sekali…
“kau tidak perlu menjawabnnya. AKu hanya ingin kau merenunginya.”
Setelah kalimat terakhir kakakku itu, aku memang tidak banyak berkata apa-apa lagi. AKu hanya mengamati Ibuku yang masih saja berbelanja, padahal ibu-ibu yang lain sudah pergi. Ku lihat wajah Ibuku kecewa dan ia berbalik meninggalkan si mamang yang sudah mendorong gerobak sayurnya.
Saat ia berjalan kembali ke rumah, matanya melirik ke atas dan ia melihatku.
“Joe, apa yang kau lakukan pada adikmu hah?” Ibuku berteriak dari bawah agar suaranya sampai pada kami.
“Cuma cari angin Bu. Dara ingin berjemur biar kulitnya bertambah hitam.”
AKu memukul kakakku keras. Ia sangat suka menggodaku, tapi aku bersyukur ia tidak memberi tahu ibu kalau aku baru saja menangis.
“Sudahlah. Kalian turun ya. Ibu akan membuat sayur asam.”
“Sayur asam?” pekikku.
Ibuku tersenyum, “Iya, tapi ayamnya habis sayang. Jadi ibu hanya membeli tempe untuk lauknya.” Dan kini aku tahu kenapa wajah ibuku terlihat kecewa tadi. Ayam kesukaanku telah habis.
Sayur asam ibuku adalah makanan favorit ku. Biasanya Ibu selalu menggoreng ayam untuk lauknya, tapi tempe pun tidak apa, yang penting masakan ibu.
“Tidak apa-apa Bu. Sayur asam saja sudah cukup. AKu akan turun sekarang.”
Aku berlari turun dan langsung menuju pintu depan. Aku membawa kantung belanjaan ibu dan membawanya ke dapur.
kakakku yang rupanya mengikuti jejakku untuk turun dari genteng pun tiba di dapur. Ia memandangi kami dengan wajah yang sumringah.
“Ada yang perlu ku bantu?” Ia menawarkan bantuannya.
“Sudahlah kakak. kau di luar saja. Memasak adalah urusan wanita. Iya kan Bu?” AKu meminta pembelaan dari ibuku.
Ibu ku tidak menjawab. ia cukup tersenyum yang ku artikan sebagai jawaban ‘Ya’
“jangan sampai gosong ya.” Goda kakakku.
Ia pun berhasil menghindari pukulanku. Dia adalah kakakku, kakak yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Dan wanita yang berdiri disana adalah ibuku. Ya dia ibuku, apapun yang terjadi ia tetap ibuku.
‘Maafkan aku Bu.’ Ucapku dalam hati

cerpen keluargaku motivasiku


Baiklah saat ini saya akan berbagi cerita motifasi untuk semua teman-teman pengunjung setia blog risa ismaya
Coretan anak bangsa

KELUARGAKU  MOTIVASIKU

Karya :
 Atun soleha
Risa ismaya
Yessa cahya pritami

Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Aku mempunyai impian yang tinggi untuk menatap masa depan yang akan aku peruntukan cinta kasihku di dunia yaitu ayah dan ibuku.
Mereka mengajarkanku arti sebuah kehIdupan,kesabaran,keiklasan,rasa bersyukur dan perjuangan hidup yang rumit ini.
Sudah berapa keringat dan tetesan air mata yang mereka keluarkan untukku,untuk kehidupanku. Besar atau kecilnya kesalahnku mereka anggap debu yang mudah diterbangkan oleh angin dan mereka selalu memaafkanku dengan ketulusan hati nan suci yang mereka miliki.
Kehidupanku sangat jauh berbeda dengan kehidupan temanku yang lainnya. Aku hanya ank seorang petani yang serba kekurangan sedangkan temanku yang serba kecukupan. Tetapi aku bangga menjadi anak seorang petani karena petani adalah pahlawan kehidupan. Karena sumber kehidupan kita ada di tangan petani.
Aku tidak pernah mengeluh dan mengemis pada mereka untuk menuruti keinginanku supaya bisa menjadi seperti anak yang lainnya. Karena aku sadar ayahku hanyalah seorang petani. Tapi aku jalani kehidupanku dengan apa adanya. Inilah aku ibu bidadari kecilmu
Aku hanya seorang gadis yang menyimpan segudang impian untuk menggapai dan menatap masa depan yang indah nan cerah.
Ibu dan bapakku selalu menasehatiku dengan tutur kata yang amat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman tawa mereka membuatku ingin menerkam untuk menuju masa-masa indah yang telah ku atur di rentetan mimpiku. Kini aku mulai beranjak dewasa dan beruaha keras dengan tekad yang begitu istimewa dan mulia untuk merubah segala nasib dalam kehidupan duniaku.
Aku mulai belajar dan berjanji pada diriku sendiri “ aku bukan anak kecil lagi, aku bukan anak yang suka mengeluh, mengadu tangis pada ibu dan bapakku. Aku akan berjuang dan berusaha sendiri bersama mimpi dan teka teki kehidupanku. Aku tidak ingin seperti kerupuk yang mudah melemah bila di tetesi kuah yang panas dan akan kubuktikan pada dunia nan indah ini bahwa aku bisa mengukir senyuman tawa bangga mereka terhadap putri keduanya.” Itu janji suciku pada diriku yang hingga sekarang sedang aku jalani. Walau sulit sekali untuk ku jalani dan banyak sekali tikungan tajam yang menghampiri dan mendekatiku, menghancurkan dan mematahkan bahkan mengoyak semangat ku untuk jadi yang lebih baik, tapi aku memiliki tuhan yang selalu bersama ku,menjagaku, melindungiku bahkan memelukku dengan erat dan menghapus air mataku.
Disaat aku mengeluh dan mencucurkan butiran bening dari lubuk hatiku,hati berkata “apakah aku mampu menggemparkan dunia ini dengan kesuksesanku ? “. Namun aku buka lagi janji-janjiku yang telah kususun dan kutulis rapat dalam buku agenda harian ku . mungkin sekarang aku belum bisa memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk kedua malaikat dunia ku . tetapi aku mempunyai sekilas doa sederhana yang setiap hari bahkan setiap detik aku lantunkan dalam setiap shalat ku atau pun dalam kesendirianku .
Ya allah .. Ya azza wajalla .
“beri aku kesempatan untuk menjadi yang lebih baik . Beri aku kesempatan untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu . Beri aku kesempatan untuk bisa membahgiakan malaikat duniaku , dan aku ingin melihat mereka melihat kebanggan mereka bisa mengharumkan namanya dengan kesuksesannya , walawpun dengan menjalani kehidupan yang penuh dengan lika dan liku yg rumit ini . .
Beri aku keteguhan iman nan kuat untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mulus ini “
“kabulkan semua doaku ya allah , untuk bisa menggapai semuanya . JIkalau aku gagal , maka aku dituntuk berdamai bersama takdir tapi aku percaya akan keajaiban mu tuhan”
Amiin
“AKU SAYANG IBU DAN BAPAKKU” dan aku akan membahagiakan mereka .
Ibu …….Bapak . Ananda sangat mencintai dan menyayangimu , dan ananda akan menerkam dunia yang mekar akan keindahan demi ibu dan bapakku dan tak lupa untuk kakak juga adikku yang tersenyum bangga terhadap adik dan kakaknya telah usai di gedung  mewah dan memakai toga untuk menuju gerbang KESUKSESAN .
The end
Terimakasih untuk teman setia pengunjung blog risa ismaya

Baiklah saat ini saya akan berbagi cerita motifasi untuk semua teman-teman pengunjung setia blog risa ismaya
Coretan anak bangsa

KELUARGAKU  MOTIVASIKU
Karya :
 Atun soleha
Risa ismaya
Yessa cahya pritami

Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Aku mempunyai impian yang tinggi untuk menatap masa depan yang akan aku peruntukan cinta kasihku di dunia yaitu ayah dan ibuku.
Mereka mengajarkanku arti sebuah kehIdupan,kesabaran,keiklasan,rasa bersyukur dan perjuangan hidup yang rumit ini.
Sudah berapa keringat dan tetesan air mata yang mereka keluarkan untukku,untuk kehidupanku. Besar atau kecilnya kesalahnku mereka anggap debu yang mudah diterbangkan oleh angin dan mereka selalu memaafkanku dengan ketulusan hati nan suci yang mereka miliki.
Kehidupanku sangat jauh berbeda dengan kehidupan temanku yang lainnya. Aku hanya ank seorang petani yang serba kekurangan sedangkan temanku yang serba kecukupan. Tetapi aku bangga menjadi anak seorang petani karena petani adalah pahlawan kehidupan. Karena sumber kehidupan kita ada di tangan petani.
Aku tidak pernah mengeluh dan mengemis pada mereka untuk menuruti keinginanku supaya bisa menjadi seperti anak yang lainnya. Karena aku sadar ayahku hanyalah seorang petani. Tapi aku jalani kehidupanku dengan apa adanya. Inilah aku ibu bidadari kecilmu
Aku hanya seorang gadis yang menyimpan segudang impian untuk menggapai dan menatap masa depan yang indah nan cerah.
Ibu dan bapakku selalu menasehatiku dengan tutur kata yang amat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman tawa mereka membuatku ingin menerkam untuk menuju masa-masa indah yang telah ku atur di rentetan mimpiku. Kini aku mulai beranjak dewasa dan beruaha keras dengan tekad yang begitu istimewa dan mulia untuk merubah segala nasib dalam kehidupan duniaku.
Aku mulai belajar dan berjanji pada diriku sendiri “ aku bukan anak kecil lagi, aku bukan anak yang suka mengeluh, mengadu tangis pada ibu dan bapakku. Aku akan berjuang dan berusaha sendiri bersama mimpi dan teka teki kehidupanku. Aku tidak ingin seperti kerupuk yang mudah melemah bila di tetesi kuah yang panas dan akan kubuktikan pada dunia nan indah ini bahwa aku bisa mengukir senyuman tawa bangga mereka terhadap putri keduanya.” Itu janji suciku pada diriku yang hingga sekarang sedang aku jalani. Walau sulit sekali untuk ku jalani dan banyak sekali tikungan tajam yang menghampiri dan mendekatiku, menghancurkan dan mematahkan bahkan mengoyak semangat ku untuk jadi yang lebih baik, tapi aku memiliki tuhan yang selalu bersama ku,menjagaku, melindungiku bahkan memelukku dengan erat dan menghapus air mataku.
Disaat aku mengeluh dan mencucurkan butiran bening dari lubuk hatiku,hati berkata “apakah aku mampu menggemparkan dunia ini dengan kesuksesanku ? “. Namun aku buka lagi janji-janjiku yang telah kususun dan kutulis rapat dalam buku agenda harian ku . mungkin sekarang aku belum bisa memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk kedua malaikat dunia ku . tetapi aku mempunyai sekilas doa sederhana yang setiap hari bahkan setiap detik aku lantunkan dalam setiap shalat ku atau pun dalam kesendirianku .
Ya allah .. Ya azza wajalla .
“beri aku kesempatan untuk menjadi yang lebih baik . Beri aku kesempatan untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu . Beri aku kesempatan untuk bisa membahgiakan malaikat duniaku , dan aku ingin melihat mereka melihat kebanggan mereka bisa mengharumkan namanya dengan kesuksesannya , walawpun dengan menjalani kehidupan yang penuh dengan lika dan liku yg rumit ini . .
Beri aku keteguhan iman nan kuat untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mulus ini “
“kabulkan semua doaku ya allah , untuk bisa menggapai semuanya . JIkalau aku gagal , maka aku dituntuk berdamai bersama takdir tapi aku percaya akan keajaiban mu tuhan”
Amiin
“AKU SAYANG IBU DAN BAPAKKU” dan aku akan membahagiakan mereka .
Ibu …….Bapak . Ananda sangat mencintai dan menyayangimu , dan ananda akan menerkam dunia yang mekar akan keindahan demi ibu dan bapakku dan tak lupa untuk kakak juga adikku yang tersenyum bangga terhadap adik dan kakaknya telah usai di gedung  mewah dan memakai toga untuk menuju gerbang KESUKSESAN .
The end
Terimakasih untuk teman setia pengunjung blog risa ismaya

Jumat, 04 Maret 2016

cerpen dia ibuku

DIA IBUKU

Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.
Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.
Bagaimana caranya?
,
Ku beritahu kau, itulah alasan aku berada di genteng dengan wajah sembab. Aku memang habis menangis. Kesedihan yang wajar dirasakan oleh seorang anak saat Ibu kandungnya sendiri selalu membandingkan diriku dengan anak-anak perempuan seusiaku. Aku mengusap kembali air mataku yang ku paksakan berhenti tapi malah berakhir makin deras jatuhnya. Sepertinya pelupuk mataku pun tidak sanggup menahan sakit hatiku. Nyeri sekaligus sesak yang sulit aku ungkapkan di dadaku yang sulit untuk diungkapkan. Aku tetap menahan tangis agar tidak ada satu orang pun yang di bawah sana melihat ke atas dan menemukanku sedang menangis.
“Hei dara!”
Seseorang menepuk pundakku halus. Aku tidak perlu menoleh kepadanya, karena orang tersebut langsung mengambil tempat di sisi kananku tanpa meminta izin.
“Kau bertengkar lagi dengan ibu?” Ia bertanya padaku dengan lembut. Melihat caranya memperlakukanku, aku tahu ia mengerti perasaanku. Perasaannya cukup peka untuk seorang kakak laki-laki.
Aku malah menyembunyikan wajahku dalam lipatan kakiku. Tangisanku semakin kencang dan guncangan bahuku pun makin tidak terkendalikan.
“Ayolah, ceritakan padaku.”
“Aku benci ibu, Kak.” Isakku. Aku tahu kalimatku terlalu mengejutkan. Di saat seluruh anak mencintai ibunya, aku malah membenci ibuku.
Kakakku tidak membantah. Ia ingin aku meneruskan ceritaku maka itu yang aku lakukan.
“Ibu menyuruhku membuat sambal lado ikan untuk makan siang kita…” AKu berhenti sebentar untuk menarik ingusku yang lolos dari lubang hidungku yang mancung, “Aku lupa menambahkan bawang merah saat aku giling. Aku benar-benar lupa kak, tapi ibu menyalahkan aku seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar. Ia mulai membandingkan aku dengan Rina yang jago memasak, dan tidak segan-segan ibu menyebutku ceroboh dan bodoh.” Saat mengucapkan kata-kata terakhir, hatiku tertohok kembali. Aku benar-benar mengingat dengan jelas ucapan ibu yang tajam menyayat hatiku. Sangat luar biasa sakit. Dadaku sesak, menahan tangis yang akan keluar lagi.
“Lalu?”
“Aku berlari keluar dari dapur dan disini aku berada. Menjauhi rumah dan menjauhi ibu.”
Kakakku menarik nafas dalam-dalam. Ia meluruskan kakinya di atas genteng. Menatap lurus pada sekumpulan wanita disana.
“Aku paham rasa sakit hatimu. Tapi maukah kau juga berpikir dari posisi ibu?”
“Berpikir apa? Berpikir bagaimana setiap kata dapat melukai hati anakknya? Itu yang kau mau untuk aku pikirkan?”
“Pikirkan alasan ibu mengucapkan kalimat itu. Apakah kau pernah berpikir bahwa ibu kelelahan setelah menyiapkan keperluan kita. Belum lagi Ifa menangis terus dari tadi. Ibu hanya kebingungan.”
“Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan buat Ibu untuk berhak mengataiku Kak.”
“Aku hanya ingin memberi saran padamu. Aku tidak membenarkan sifat Ibu dan aku juga tidak ingin menyalahkan Ibu, tapi pikirkan ini: Sakit mana saat Ibu berusaha melahirkanmu dengan sakit hatimu saat ibu khilaf memarahimu?”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus menjawab apa, semua kata-kata pembelaan bagiku hilang semuanya. Sakit saat ibu melahirkanku mungkin memang tidak ada tandingannya. Aku pernah membantu Ibu Nani — bidan kampung — saat ia membantu persalinan Ibu Wijaya. Aku pikir beliau akan meninggal, melihat nafasnya yang putus-putus dan keringat yang mengalir deras. Bahkan aku terkesiap saat Ibu Wijaya sempat kehilangan kesadaran. Bodoh sekali aku melupakan moment beharga itu. Bodoh sekali…
“kau tidak perlu menjawabnnya. AKu hanya ingin kau merenunginya.”
Setelah kalimat terakhir kakakku itu, aku memang tidak banyak berkata apa-apa lagi. AKu hanya mengamati Ibuku yang masih saja berbelanja, padahal ibu-ibu yang lain sudah pergi. Ku lihat wajah Ibuku kecewa dan ia berbalik meninggalkan si mamang yang sudah mendorong gerobak sayurnya.
Saat ia berjalan kembali ke rumah, matanya melirik ke atas dan ia melihatku.
“Joe, apa yang kau lakukan pada adikmu hah?” Ibuku berteriak dari bawah agar suaranya sampai pada kami.
“Cuma cari angin Bu. Dara ingin berjemur biar kulitnya bertambah hitam.”
AKu memukul kakakku keras. Ia sangat suka menggodaku, tapi aku bersyukur ia tidak memberi tahu ibu kalau aku baru saja menangis.
“Sudahlah. Kalian turun ya. Ibu akan membuat sayur asam.”
“Sayur asam?” pekikku.
Ibuku tersenyum, “Iya, tapi ayamnya habis sayang. Jadi ibu hanya membeli tempe untuk lauknya.” Dan kini aku tahu kenapa wajah ibuku terlihat kecewa tadi. Ayam kesukaanku telah habis.
Sayur asam ibuku adalah makanan favorit ku. Biasanya Ibu selalu menggoreng ayam untuk lauknya, tapi tempe pun tidak apa, yang penting masakan ibu.
“Tidak apa-apa Bu. Sayur asam saja sudah cukup. AKu akan turun sekarang.”
Aku berlari turun dan langsung menuju pintu depan. Aku membawa kantung belanjaan ibu dan membawanya ke dapur.
kakakku yang rupanya mengikuti jejakku untuk turun dari genteng pun tiba di dapur. Ia memandangi kami dengan wajah yang sumringah.
“Ada yang perlu ku bantu?” Ia menawarkan bantuannya.
“Sudahlah kakak. kau di luar saja. Memasak adalah urusan wanita. Iya kan Bu?” AKu meminta pembelaan dari ibuku.
Ibu ku tidak menjawab. ia cukup tersenyum yang ku artikan sebagai jawaban ‘Ya’
“jangan sampai gosong ya.” Goda kakakku.
Ia pun berhasil menghindari pukulanku. Dia adalah kakakku, kakak yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Dan wanita yang berdiri disana adalah ibuku. Ya dia ibuku, apapun yang terjadi ia tetap ibuku.
‘Maafkan aku Bu.’ Ucapku dalam hati

cerpen yang berjudul keluargaku motivasiku

Baiklah saat ini saya akan berbagi cerita motifasi untuk semua teman-teman pengunjung setia blog risa ismaya
Coretan anak bangsa

KELUARGAKU  MOTIVASIKU


Karya :
 Atun soleha
Risa ismaya
Yessa cahya pritami

Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Aku mempunyai impian yang tinggi untuk menatap masa depan yang akan aku peruntukan cinta kasihku di dunia yaitu ayah dan ibuku.
Mereka mengajarkanku arti sebuah kehIdupan,kesabaran,keiklasan,rasa bersyukur dan perjuangan hidup yang rumit ini.
Sudah berapa keringat dan tetesan air mata yang mereka keluarkan untukku,untuk kehidupanku. Besar atau kecilnya kesalahnku mereka anggap debu yang mudah diterbangkan oleh angin dan mereka selalu memaafkanku dengan ketulusan hati nan suci yang mereka miliki.
Kehidupanku sangat jauh berbeda dengan kehidupan temanku yang lainnya. Aku hanya ank seorang petani yang serba kekurangan sedangkan temanku yang serba kecukupan. Tetapi aku bangga menjadi anak seorang petani karena petani adalah pahlawan kehidupan. Karena sumber kehidupan kita ada di tangan petani.
Aku tidak pernah mengeluh dan mengemis pada mereka untuk menuruti keinginanku supaya bisa menjadi seperti anak yang lainnya. Karena aku sadar ayahku hanyalah seorang petani. Tapi aku jalani kehidupanku dengan apa adanya. Inilah aku ibu bidadari kecilmu
Aku hanya seorang gadis yang menyimpan segudang impian untuk menggapai dan menatap masa depan yang indah nan cerah.
Ibu dan bapakku selalu menasehatiku dengan tutur kata yang amat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman tawa mereka membuatku ingin menerkam untuk menuju masa-masa indah yang telah ku atur di rentetan mimpiku. Kini aku mulai beranjak dewasa dan beruaha keras dengan tekad yang begitu istimewa dan mulia untuk merubah segala nasib dalam kehidupan duniaku.
Aku mulai belajar dan berjanji pada diriku sendiri “ aku bukan anak kecil lagi, aku bukan anak yang suka mengeluh, mengadu tangis pada ibu dan bapakku. Aku akan berjuang dan berusaha sendiri bersama mimpi dan teka teki kehidupanku. Aku tidak ingin seperti kerupuk yang mudah melemah bila di tetesi kuah yang panas dan akan kubuktikan pada dunia nan indah ini bahwa aku bisa mengukir senyuman tawa bangga mereka terhadap putri keduanya.” Itu janji suciku pada diriku yang hingga sekarang sedang aku jalani. Walau sulit sekali untuk ku jalani dan banyak sekali tikungan tajam yang menghampiri dan mendekatiku, menghancurkan dan mematahkan bahkan mengoyak semangat ku untuk jadi yang lebih baik, tapi aku memiliki tuhan yang selalu bersama ku,menjagaku, melindungiku bahkan memelukku dengan erat dan menghapus air mataku.
Disaat aku mengeluh dan mencucurkan butiran bening dari lubuk hatiku,hati berkata “apakah aku mampu menggemparkan dunia ini dengan kesuksesanku ? “. Namun aku buka lagi janji-janjiku yang telah kususun dan kutulis rapat dalam buku agenda harian ku . mungkin sekarang aku belum bisa memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk kedua malaikat dunia ku . tetapi aku mempunyai sekilas doa sederhana yang setiap hari bahkan setiap detik aku lantunkan dalam setiap shalat ku atau pun dalam kesendirianku .
Ya allah .. Ya azza wajalla .
“beri aku kesempatan untuk menjadi yang lebih baik . Beri aku kesempatan untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu . Beri aku kesempatan untuk bisa membahgiakan malaikat duniaku , dan aku ingin melihat mereka melihat kebanggan mereka bisa mengharumkan namanya dengan kesuksesannya , walawpun dengan menjalani kehidupan yang penuh dengan lika dan liku yg rumit ini . .
Beri aku keteguhan iman nan kuat untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mulus ini “
“kabulkan semua doaku ya allah , untuk bisa menggapai semuanya . JIkalau aku gagal , maka aku dituntuk berdamai bersama takdir tapi aku percaya akan keajaiban mu tuhan”
Amiin
“AKU SAYANG IBU DAN BAPAKKU” dan aku akan membahagiakan mereka .
Ibu …….Bapak . Ananda sangat mencintai dan menyayangimu , dan ananda akan menerkam dunia yang mekar akan keindahan demi ibu dan bapakku dan tak lupa untuk kakak juga adikku yang tersenyum bangga terhadap adik dan kakaknya telah usai di gedung  mewah dan memakai toga untuk menuju gerbang KESUKSESAN .
The end
Terimakasih untuk teman setia pengunjung blog risa ismaya